MENJADI JURNALIS

Salah satu budaya nyekar makam leluhur Topeng Malangan
Dunia jurnalis memang adalah impian sejak lama dan sangat ingin saya wujudkan. Itu karena awalnya saya hanya suka menulis buku harian dan di blog seperti ini. Tulisannya bermacam-macam, kadang apa yang ada di pikiran saya kadang pula puisi. Baru tahun ini keinginan saya untuk menjadi jurnalis bisa tercapai. Awalnya saya mengira bahwa profesi saya ini dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Kemudian satu per satu orang-orang yang ada di sekitar saya datang pada saya untuk sekedar ingin tahu bagaimana rasanya menjadi jurnalis. Beberapa dari mereka justru ada yang memiliki keinginan serupa dengan saya namun belum berani untuk mewujudkannya. Saya merasa bahwa profesi ini sebenarnya adalah profesi yang membanggakan dan tidak layak untuk dipandang sebelah mata. Dengan menjadi jurnalis, saya bisa menjalin komunikasi dengan banyak orang dan banyak media massa lainnya. Dari situ saya bisa membantu beberapa teman yang sempat bercerita ke saya mengenai keinginannya untuk menjadi jurnalis. 

Saya sendiri tidak menyangka bahwa satu langkah kecil saya ini bisa menjadi gravitasi bagi sekeliling saya dan mampu pula untuk menginspirasi beberapa orang, dimulai dari teman saya, untuk mewujudkan mimpinya yang selama ini sering dianggap sebelah mata, yaitu menjadi jurnalis. 

Bekerja sebagai jurnalis sebenarnya bukan hal yang mudah. Karena saya bekerja di media online, saya dituntut untuk bisa menghasilkan berita dalam waktu sesingkat mungkin pada saat terjadinya kejadian tersebut yang kemudian harus saya kirim ke editor saya. Saya juga dituntut untuk bisa mengambil gambar dengan kualitas bagus untuk melengkapi berita yang saya buat. Terutama ketika saya harus bertugas seorang diri tanpa didampingi fotografer khusus. Maka dari itu gadget yang praktis dan efisien tentunya akan sangat berguna untuk bisa menghasilkan foto bagus dan proses cepat.   

MENJADI BLOGGER

#OOTD 
Saya sudah suka bermain blog sejak kelas 2 SMP. Saat itu blog belum begitu nge-trend seperti saat ini. Itu sebabnya saya tidak konsisten dalam menulis konten blog. Sekarang ini saya sudah mulai mencoba konsisten mengisi blog pribadi saya ini. Yang menjadi fokus saya adalah fashion. Yap, tanpa saya sadari fashion blogger Indonesia dan luar negeri menjadi gravitasi saya dan sekarang giliran saya untuk menjadi pusat gravitasi sekitar saya. 

Memadu padankan baju memang sudah hobi saya sejak jaman saya masih SMP, SMA. Namun ketertarikan saya untuk menjadi fashion blogger baru saat saya kuliah. Mungkin ini terlalu dini untuk menyebut diri saya sebagai fashion blogger, tapi itulah harapan saya. Setelah saya memosting beberapa foto saya dengan hasil padu padan ala saya, respon positif mulai saya dapat. Mereka bilang saya memiliki selera fashion yang bagus dan selalu bisa tampil stylist dengan outfit apapun, namun tetap, saya masih merasa belum pantas dibilang begitu. 

Walaupun respon awal bagus, namun saya juga sesekali merasa ragu untuk menekuni dunia fashion blogging. Ini karena saya berasal dari Malang yang notabena minim atau bahkan tidak memiliki fashion blogger kelas atas seperti di Jakarta. Namun saya tetap mencoba konsisten. Perlahan, teman-teman, saudara-saudara saya dan keluarga meminta bantuan saya untuk memadu padankan pakaian mereka. Beberapa dari mereka kini mengerti bagaimana caranya berpenampilan menawan hanya dengan memadu padankan pakaian yang mereka miliki. Hanya dengan bantuan postingan blog saya. Banyak pula diantara mereka yang kini menjadi lebih stylish daripada saya dan bisa menghasilkan foto-foto OOTD maupun foto ala fashion blogger dan selebgram. Bahkan beberapa mulai mempertimbangkan untuk memanfaatkan platform Blogger atau Youtube sebagai sarana mereka berekspresi dengan fashion.

Tuntutan menjadi fashion blogger sebenarnya sama dengan menjadi jurnalis. Yang saya butuhkan juga sama, yakni kamera dengan hasil bagus dan terlihat natural dengan sedikit sentuhan astetik. Gadget yang bisa memberikan kecepatan internet untuk mengupload foto sekaligus konten blog saya tentunya akan menjadi pertimbangan saya sebagai blogger. 

MENJADI KEDUANYA

Ini yang perlu kalian ketahui sedikit, hampir semua foto yang saya hasilkan adalah hasil jepretan saya sendiri. Seringnya saya menggunakan kamera DSLR untuk mengambil foto. Tapi saya merasa bahwa menggunakan kamera DSLR kurang praktis dan tidak efisien walaupun foto yang dihasilkan bagus. 

Begitu juga dengan menjadi jurnalis. Mobilitas saya yang tinggi tentu tidak memungkinkan bagi saya untuk menggunakan kamera DSLR yang membutuhkan ruang simpan besar di tas saya terus menerus. Saya harus terus berada di lapangan dan secepat mungkin mengambil foto dengan kualitas bagus untuk melengkapi berita yang saya buat. Apalagi jika saya harus bekerja seorang diri tanpa didampingi fotografer khusus. 

Tentunya hal tersebut akan membatasi ruang gerak saya, maka dari itu kalau boleh saya sedikit sarankan jika kalian adalah orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi seperti jurnalis, selebgram, blogger, atau youtuber yang suka untuk mengabadikan momen ataupun pakaian yang kalian gunakan, saya kira Luna Smartphone bisa menjadi solusi. Dengan kualitas kamera setara iPhone 6 tentunya bisa membantu kalian dan saya sendiri untuk menghasilkan gambar kualitas bagus. Selain itu dengan menggunakan smartphone ini juga dapat membantu kita untuk terus menjadi gravitasi dan menginspirasi sekitar untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri. Dilengkapi dengan fitur 4G yang ada di smartphone ini tentunya akan mempermudah dan mempercepat akses internet untuk membagikan hasil jepretan ataupun tulisan pada platform yang kita gunakan. Smartphone ini juga memiliki desain yang ramping sehingga tidak makan tempat dan bisa dengan mudah dibawa kemana-mana dalam mendukung aktivitas kita untuk menjadi gravitasi bagi sekitar kita. 

Nah, itu tadi adalah ceritaku menjadi gravitasi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarku. Kalau kalian sendiri bagaimana? Gravitasi apa yang sudah kalian ciptakan? Kalian bisa share di kolom komentar di bawah ini dan jadilah #SAYAGRAVITASI